Home ARTIKEL HUKUM DAN HAM
HUKUM DAN HAM
ANTARA HARAPAN DAN JANJI PENYELESAIAN KASUS HAK ASASI MANUSIA (HAM) DI TANAH PAPUA?

Oleh Oksianus Kotipky Bukega

Setiap manusia memiliki hak. Hak dari kodratnya melekat pada setiap individu. Oleh karena itu, hak bukan suatu barang yang harus dipermainkan begitu saja. Hak adalah suatu kekayaan yang dimiliki oleh setiap individu, sehingga pelanggaran HAM tidak hanya sekedar sebagai sebuah sandiwara tetapi sesuatu yang perlu dilihat secara wajar dan saksama. Apa lagi menghilangkan nyawa orang, menindas orang tanpa ada sebab, memperkosa dan mengintimidasi orang tanpa alasan yang jelas dan sebagainya adalah suatu dosa berat terhadap Tuhan yang kita sembah di dunia ini. Dengan demikian, setiap ‘Hak Asasi Manusia’ yang ada pada setiap individu maupun kelompok perlu dihormati dan diberi penghargaan yang setinggi-tingginya selayaknya manusia. Berbicara tentang HAM selalu berorientasi pada subyek yaitu manusia sebagai pemilik hak asasi. Dan dari padanya HAM dapat diterima sebagai suatu nilai dan norma yang selalu diperioritaskan sehingga ketika kita menyinggung soal HAM. Maka ada sejumlah pelanggaran HAM yang terkontaminasi dengan faktor-faktor yang terjadi dari luar HAM yakni sosio-politik. Dalam bahasa sosio-politik adalah “Pelanggaran HAM”.

Read more...
 
Mengenal Sosok Dortheys Hiyo Eluay Pahlawan Papua (Mengenang 13 Tahun Kematian Dortheys Hiyo Eluay)

Penulis: Agustinus Dogomo


Kalau saya mati pasti saya masuk surga, kalau disurga ada orang Indonesia maka saya akan lari. Jika malaikat Tuhan tanya kenapa lari? Saya akan menjawab saya takut Indonesia jajah kami disurga lagi… (Dortheys Hiyo Eluay).

Dortheys Hiyo Eluay lahir 3 November 1937 di Sereh, Sentani, Jayapura. Dortheys Hiyo Eluay Sekolah Dasar lanjutan (Jongensvervolgschool) di Yoka, Sentani pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Ia mempelajari meteorologi dan bekerja sebagai asisten ahli meteorologi di Badan meteorologi dan Geofisika Pemerintah Hindia Belanda. Selanjutnya, Eluay menjadi kelapa adat (ondoafi) karena Ia berasal dari keluarga kepala adat (ondoafi) dan memiliki pendidikan yang tinggi ukuran zaman itu.


Dortheys Hiyo Eluay Masa lalu (1963-1992)

Masa lalu Dortheys Hiyo Eluay 1963 membantu Indonesia dalam memilih orang-orang yang dianggap Pro- Belanda yang memprotes integrasi Indonesia agar kemudian dibunuh. Ia merupakan salah satu dari 1025 orang yang terpilih dalam Dewan Musyawarah Penentuan Pendapat Rakyat (DMP PEPERA) tahun 1969 dan mengikuti pemugutan suara untuk integrasi dengan Integrasi dengan Indonesia pada tahun 1969.

Ia juga berkampanye untuk bergabung dengan Indonesia. Pada tahun 1971, Theys bergabung ke Partai Kristen Indonesia dan masuk ke parlemen Indonesia. Tahun 1977 Theys pindah ke Partai Golkar dan Ia menjadi Anggota DPRD Irian Jaya hingga 1992.

Kekecewaan ia karena tidak terpilih menjadi DPRD diperiode, ia membentuk Lembaga Musyawarah Adat (LMA) yang menyatukan 250 suku Papua tahun 1992. Dorttheys Hiyo Eluay terpilih dinobatkan selaku Pimpinan Besar Lembaga Masyarakat Papua (LMA) Papua. Ia kemudian menjadi Pimpinan Besar Dewan Papua Merdeka.

Read more...
 




Copyright by KOMAPO.